Tuesday, August 7, 2018

Pertemuan empat mata dua pemimpin negara besar dunia di Helsinki, Finlandia, Senin (16/7) membawa babak baru perseteruan AS dan Rusia. Hasil dari pertemuan tersebut cukup membuat arah angin segar politik hari ini untuk Putin, dan sebaliknya panen cacian untuk Trump.

Pada berita politik hari ini yang dirangkum matamatapolitk.com, bisa dibilang pertemuan Putin dan Trump semakin membuat panas kisruh pilpres AS sejak 2016 lalu. Terlebih lagi pernyataan kontroversial Trump yang tampak tidak memercayai badan intelejennya sendiri. Meskipun belakangan, ia meralat statemennya tersebut, sebagai ”salah ucap”, namun publik AS telanjur menilai buruk presiden mereka.

“Mereka mengira itu Rusia. Namun, Presiden Putin mengatakan sebaliknya. Jadi, saya tidak menemukan alasan mengapa intelejen AS menuduhnya,” ujar D. Trump seperti yang dilansir oleh BBC.

Pernyataan kontroversial tersebut tentunya saja menyulut keberangan para politikus Paman Sam. Baik dari kubu Partai Demokrat, maupun Partai Republik. Keduanya kompak mengecam sang presiden berusia 72 tahun tersebut.

“Belum pernah ada dalam sejarah, ada presiden (AS) yang merendahkan martabat negaranya di depan seorang tiran,” kecam Senator McCain.

Senada dengan McCain, Senator Lindsey Graham juga menumpahkan kritik lewat Twitter, yang mengatakan bahwa menurutnya Trump bisa memanfaatkan pertemuan Helsinki dengan menagih tanggung jawab Rusia pada kisruh pilpres AS 2016.

“Itu bukan hanya komentar yang bodoh. Tapi juga menjadi bukti keberpihakan (Trump) pada Putin. Hai para Republikan, di mana kalian?” cuit Mantan Direktur CIA John Brennan yang menyamakan Trump sebagai pengkhianat.

Jika Trump harus panen kritikan, sebaliknya Putin justru menuai pujian di Rusia. Oleh media Rusia, dia dianggap berhasil menunjukkan kesetaraan Rusia-AS ke seluruh dunia.  

“Menggelikan jika mengingat kembali saat (Barack) Obama menyatakan bahwa kekuatan regional Rusia melemah,” ujar Alexey Pushkov, anggota Majelis Tinggi Parlemen Rusia. Dia menambahkan pula bahwa nasib dunia saat ini ada di tangan Rusia dan AS.

Peneliti Institute of International Relations Prague, Mark Galeotti, juga menyatakan bahwa pertemuan Helsinki tersebut menunjukkan apa yang diharapkan Kremlin saat ini. Putin berhasil menampilkan Rusia sebagai penyeimbang dominasi kedigdayaan AS. 


Kiprah Helsinki dalam Pusaran Politik Dunia
Helsinki, Finlandia, memang layak disebut sebagai kota diplomasi internasional. Tercatat beberapa pertemuan dua negara adidaya, AS-Rusia, dilakukan di sini. Tahun 1975, Presiden AS, Gerald Ford bertemu dengan pimpinan Rusia, Leonid Brezhnev. Kemudian tahun 1990, Presiden George Bush dengan Mikhail Gorbachev. Dan tahun 1997, Presiden Bill Clinton bersalaman dengan Presiden 

Rusia Boris Yeltsin saat baru saja dilantik.
Indonesia sendiri pernah melakukan diplomasi politik berkenaan konflik antara pemerintah RI dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), pada Januari 2005. Yang berujung dengan perjanjian damai pada 15 Agustus 2005. Diwakili Menteri Hukum dan HAM kala itu, Hamid Awaludin, dan dari pihak GAM mengirim utusan Malik Mahmud Al Haytar, MoU perdamaian ditandatangani.

Simak terus berita politik hari ini dari matamatapolitik.com. matamatapolitik.com perintis media online di Indonesia yang mengakomodir kebutuhan informasi politik masyarakat, baik lokal maupun internasional.

0 comments :

Post a Comment